My Loneliness is…

Akhir-akhir ini aku banyak mendapat cerita dari teman-temanku. Kebanyakan isinya keluhan mereka tentang teman-teman mereka. Kehilangan teman yang biasanya selalu bareng, dan sekarang mulai menjauh karena kesibukan masing-masing, entah kuliah, kerja, bertemu teman baru, atau pacar baru *eh*.

Ah, sesuatu yang biasa buatku.

Sebagai orang yang terbiasa dengan kehilangan, aku menanggapi fenomena ini dengan pemikiran simpel. “People come and go”.

That’s life. C’est la vie. Begitulah hidup. Kitu we hirup teh.

Menghadapi banyak kehilangan dalam hidupku, kehilangan orang tua, kehilangan teman, kehilangan pacar (yang sekarang jadi mantan), aku mulai bisa menerima kalau orang-orang di sekitarku, tak terkecuali mereka yang spesial, hanya singgah dalam sekian waktu, lalu pada akhirnya akan pergi lagi.

Pada akhirnya hidup hanyalah seleksi alam tentang siapa yang bertahan dan siapa yang tak tahan.

Walau pada ujungnya artinya kita berakhir hidup sendiri.

Hidup menjadi anak rantau yang harus berjuang sendiri di kosan, aku mulai bersahabat dengan kesendirian. Mungkin awalnya sepi, tapi begitulah hidup. Hidup adalah tentang berjuang sendiri.

Untuk yang masih memilih untuk menemani, terima kasih.

Hidup sendiri membuatku sadar betapa berharganya hari-hari ketika ada yang menemani.

Ketika teman, pacar, siapapun itu menyempatkan hadir, walau sekedar lewat media sosial karena mereka saat ini jauh (I’m currently having Long Distance Relationship with my boyfie and Long Distance Friendship with my bestfriends), apalagi ketika tiba waktunya untuk bertemu. Momen-momen sederhana itulah yang membuatku bertahan sampai saat ini, dan membuatku terus menanti hari-hari seperti ini.

Pada akhirnya, sendiri dan berpengalaman ditinggal membuatku sadar, orang-orang datang dan pergi, dan pilihan akhirnya adalah bertahan atau tak tahan. Begitulah hidup yang kita jalankan.

Pertahankan selama mereka bertahan.

Advertisements

My Loneliness is…

Akhir-akhir ini aku banyak mendapat cerita dari teman-temanku. Kebanyakan isinya keluhan mereka tentang teman-teman mereka. Kehilangan teman yang biasanya selalu bareng, dan sekarang mulai menjauh karena kesibukan masing-masing, entah kuliah, kerja, bertemu teman baru, atau pacar baru *eh*.

Ah, sesuatu yang biasa buatku.

Sebagai orang yang terbiasa dengan kehilangan, aku menanggapi fenomena ini dengan pemikiran simpel. “People come and go”.

That’s life. C’est la vie. Begitulah hidup. Kitu we hirup teh.

Menghadapi banyak kehilangan dalam hidupku, kehilangan orang tua, kehilangan teman, kehilangan pacar (yang sekarang jadi mantan), aku mulai bisa menerima kalau orang-orang di sekitarku, tak terkecuali mereka yang spesial, hanya singgah dalam sekian waktu, lalu pada akhirnya akan pergi lagi.

Pada akhirnya hidup hanyalah seleksi alam tentang siapa yang bertahan dan siapa yang tak tahan.

Walau pada ujungnya artinya kita berakhir hidup sendiri.

Hidup menjadi anak rantau yang harus berjuang sendiri di kosan, aku mulai bersahabat dengan kesendirian. Mungkin awalnya sepi, tapi begitulah hidup. Hidup adalah tentang berjuang sendiri.

Untuk yang masih memilih untuk menemani, terima kasih.

Hidup sendiri membuatku sadar betapa berharganya hari-hari ketika ada yang menemani.

Ketika teman, pacar, siapapun itu menyempatkan hadir, walau sekedar lewat media sosial karena mereka saat ini jauh (I’m currently having Long Distance Relationship with my boyfie and Long Distance Friendship with my bestfriends), apalagi ketika tiba waktunya untuk bertemu. Momen-momen sederhana itulah yang membuatku bertahan sampai saat ini, dan membuatku terus menanti hari-hari seperti ini.

Pada akhirnya, sendiri dan berpengalaman ditinggal membuatku sadar, orang-orang datang dan pergi, dan pilihan akhirnya adalah bertahan atau tak tahan. Begitulah hidup yang kita jalankan.

Pertahankan selama mereka bertahan.

Pulang

“Saatnya pulang..” desisku melihat notif masuk barusan.

“Untuk menyelesaikan urusan tersebut, kami meminta Anda untuk hadir pada 18 Januari 2018” begitu sekilas pesan yang kubaca. Seperti biasa, urusan mendadak.

Aku bukan orang yang tak terbiasa dengan urusan mendadak. Hal itu sudah lumrah bagiku, dengan segala kepadatan hari-hariku yang penuh kegiatan dan kadang harus dadakan. Satu hal yang kubenci, aku harus pulang.

Aku benci pulang.

Bukan karena aku tak mau menemui orang tua dan keluargaku, aku merindukan mereka

Bukan karena aku ingin lari dari tanggung jawab. Aku sudah terlalu dianggap dewasa untuk melakukan itu.

Aku benci jauh darimu.

Hari-hari kita bersama membuatku terus merasa lupa waktu

Melupakan segala drama dan kesedihan yang telah membelenggu hidupku

Aku benci menerima kenyataan kalau hari-hari indah itu harus berlalu

Sayang, saatnya kembali ke realita

Dimana jarak membentang melebihi hasta

Dimana aku dan kamu tak berada di tempat yang sama

Namun setidaknya, langit kita sama.

Sayang, tunggulah aku kembali

Saat waktu terasa melamban lagi

Karena ada kamu di sisi

Tunggulah, nanti aku kembali ke sini

Pulang

“Saatnya pulang..” desisku melihat notif masuk barusan.

“Untuk menyelesaikan urusan tersebut, kami meminta Anda untuk hadir pada 18 Januari 2018” begitu sekilas pesan yang kubaca. Seperti biasa, urusan mendadak.

Aku bukan orang yang tak terbiasa dengan urusan mendadak. Hal itu sudah lumrah bagiku, dengan segala kepadatan hari-hariku yang penuh kegiatan dan kadang harus dadakan. Satu hal yang kubenci, aku harus pulang.

Aku benci pulang.

Bukan karena aku tak mau menemui orang tua dan keluargaku, aku merindukan mereka

Bukan karena aku ingin lari dari tanggung jawab. Aku sudah terlalu dianggap dewasa untuk melakukan itu.

Aku benci jauh darimu.

Hari-hari kita bersama membuatku terus merasa lupa waktu

Melupakan segala drama dan kesedihan yang telah membelenggu hidupku

Aku benci menerima kenyataan kalau hari-hari indah itu harus berlalu

Sayang, saatnya kembali ke realita

Dimana jarak membentang melebihi hasta

Dimana aku dan kamu tak berada di tempat yang sama

Namun setidaknya, langit kita sama.

Sayang, tunggulah aku kembali

Saat waktu terasa melamban lagi

Karena ada kamu di sisi

Tunggulah, nanti aku kembali ke sini

Sayonara 2017, Ahlan 2018!

Akhirnya, tahun 2017 yang penuh drama berakhir sempurna, dan 2018 dimulai dengan bahagia.

Yeah, 2017 was an extreme bomb.

Tahun dengan berbagai lika-liku, drama.

I can say that 2017 was like an extreme roller coaster, with the very nice landing position.

Di tahun yang gila ini, aku kehilangan orang-orang yang biasanya selalu ada, harus melewati banyak drama, menghadapinya satu per satu.

Tapi di 2017 yang luar biasa ini, aku pun menemukan orang-orang baru.

Orang-orang tak terduga yang akhirnya menjadi teman, bahkan teman hidup.

Lika liku pertemanan dan percintaan terasa lebih bergejolak di tahun 2017 ini. Dari punya sahabat, lalu ditinggal. Pernah sayang, lalu ditinggal pula. Everyone will go away when it’s time, I know.

Tahun di mana pada akhirnya aku pernah menyimpulkan, “In the end, all you can depend is yourself”. Memutuskan buat menyendiri dan merenung. Memang sulit di awal, tapi akhirnya terbiasa………

Sampai akhirnya menemukan akhir yang bahagia di balik drama 2017 ini. Menemukan orang yang akhirnya menyadarkan, “No, you can’t face everything alone”. He’s like, the best thing I never knew I needed.

Dan seperti itulah, drama berjudul “2017” ini diakhiri dengan happy ending yang sukses.

Terima kasih untuk semua yang pernah mewarnai 2017ku ini. Yang pernah datang lalu pergi, yang memilih bertahan, yang akhirnya datang dengan bahagia yang sudah lama tak kurasakan.

2018, please be a much better year.

Disiksa Nasi Ayam di Ayam Nelongso Jatinangor

Hai pecinta pedas! Kamu kuat pedes? Jangan ngaku kuat kalo kamu belum ngerasain “siksaan” nasi ayam dan sambel yang pedesnya bagai azab di sini!

Ayam Nelongso yang terletak di Jalan Kolonel Ahmad Syam no. 22 (Jalan Sayang), Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat ini memang baru buka. Tapi langsung jadi salah satu tempat makan yang hits abis. Berawal dari promo “500 piring makan gratis” di awal pembukaannya, sampai hebohnya nasi+ayam yang hanya seharga Rp 5.000!

Sayangnya, saat aku ke sini, paket nasi+ayam Rp 5.000 itu sudah habis. Karena paket itu khusus buat sarapan. Jadi aku pesan Ayam Plecing & nasi aja. Sengaja aku pesan minumnya Milo karena aku denger-denger minum susu setelah makan pedes bisa mengurangi rasa pedes itu dengan cepat.

Tak perlu menunggu lama, aku langsung dengar “atas nama Mbak Fira” dari pelayan. Gercep parah.

Ayam plecing, nasi, dan miloku sudah sampe.

Sambelnya menggoda banget. Merah menyala dan buanyaak.

Karena laper, aku langsung melahap ayam & nasi ini.

First impression setelah kucoba: sambelnya sadis. Di sini memang gak pake sistem level kayak di kedai umumnya. Awalnya kukira gak akan sepedas ini, soalnya aku terbiasa makan ayam dengan sambel yah… paling parah level 5.

Jujur, baru kali ini aku makan sambel sampe ga bisa ngomong, keringet di seluruh badan, meler, jantung berasa robek, usus berasa diurai, lambung berasa ditonjok. Sampe detak jantung gak karuan saking pedesnya ini ayam. Haha lebay parah ya. Tapi serius itulah yang aku rasain gara-gara sambel di sini. Badan rasanya tersiksa kayak abis kena azab. Wkwkwkw fix makin lebay. Pokoknya nelongso (merana) abis.

Daaan beginilah wujudku setelah sukses terkoyak ayam & sambel sadis ini. Terima kasih sambel.

Kalian pecinta pedas harus banget coba. Selain pedasnya yang sadis, masih banyak lagi kesadisan 11 varian sambal lainnya. Selamat tersiksa sampe nelongso!

Zakat Vs Pajak, Haruskah Salah Satunya Dihilangkan?

Menunaikan zakat dan membayar pajak, kedua instrumen yang selaras dalam hal masyarakat mengeluarkan sebagian dari hartanya, terutama uang.

Zakat adalah sejumlah harta yang wajib dikeluarkan oleh pemeluk agama Islam (muzzaki) untuk diberikan kepada golongan yang berhak menerima (mustahiq) sesuai dengan yang ditetapkan oleh syariah. Golongan-golongan yang berhak menerima zakat tersebut antara lain muallaf (mereka yang baru memeluk agama Islam), fakir (orang yang sangat sengsara dan melarat serta tidak memiliki harta dan tenaga untuk memenuhi kehidupannya), miskin selalu dalam kekurangan dan kesulitan, ia memiliki pekerjaan dan penghasilan namun tidak mampu menutup kebutuhannya), amil zakat (orang yang menjadi panitia/petugas zakat), riqab (hamba sahaya yang ingin memerdekakan diri), gharim (orang yang berhutang), fii sabilillah (orang yang berjuang di jalan Allah), dan ibnu sabil (musafir). Seperti ditetapkan dalam Surah At-Taubah ayat 60 yang memiliki arti “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” Zakat secara umum terdiri atas zakat fitrah (zakat yang wajib dikeluarkan menjelang hari raya Idul Fitri pada bulan Ramadhan) dan zakat maal (harta). Selain diatur oleh Al Quran dan Hadist, zakat juga diatur dalam Undang-Undang, yaitu Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2011 dan Penjelasan UU no.23 tahun 2011

Peraturan Pemerintah RI Nomor 14 Tahun 2014

Instruksi Presiden RI Nomor 3 Tahun 2014

Peraturan Badan Amil Zakat Nasional Nomor 01 Tahun 2014

Peraturan Badan Amil Zakat Nasional Nomor 02 Tahun 2014

Peraturan Badan Amil Zakat Nasional Nomor 01 Tahun 2016

Peraturan Badan Amil Zakat Nasional Nomor 02 Tahun 2016

Lain halnya dengan pajak. Salah satu instrumen pemasukan negara ini adalah pungutan wajib yang dibayar rakyat untuk negara dan akan digunakan untuk kepentingan pemerintah dan masyarakat umum. Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesarbesarnya kemakmuran rakyat. Pembayaran pajak merupakan perwujudan dari kewajiban kenegaraan dan peran serta Wajib Pajak untuk secara langsung dan bersama-sama melaksanakan kewajiban perpajakan untuk pembiayaan negara dan pembangunan nasional. Sesuai falsafah undang-undang perpajakan, membayar pajak bukan hanya merupakan kewajiban, tetapi merupakan hak dari setiap warga Negara untuk ikut berpartisipasi dalam bentuk peran serta terhadap pembiayaan negara dan pembangunan nasional. Secara umum, pajak terdiri atas pajak pusat yang dikelola oleh direktorat jendral pajak (PPh/Pajak Penghasilan, PPN/Pajak Pertambahan Nilai, PBB/Pajak Bumi dan Bangunan, PpnBM/Pajak Penjualan Barang Mewah, Bea Materai), dan pajak daerah yang dibagi dua menjadi pajak provinsi dan pajak kabupaten, bergantung pada pengelola pajak tersebut (Pajak reklame, pajak iklan, dll).

Tak seperti zakat yang secara langsung ditujukan kepada kaum mustahiq, pajak ditujukan untuk mengisi kas negara untuk kemudian dialokasikan untuk pembangnan negara, misalnya fasilitas-fasilitas seperti jembatan, jalan, sekolah, dll. Manfaat pajak mungkin tak dirasakan orang-orang secara individu, tapi dirasakan secara tak langsung melalui fasilitas-fasilitas umum yang mereka nikmati. Perpajakan diatur dalam Undang-Undang Ketentuan Umum Perpajakan

 

Yang menjadi persoalan di masyarakat saat ini, muncul rasa enggan dari masyarakat untuk membayar pajak. Hal ini disebabkan oleh menurunnya rasa percaya masyarakat terhadap pemerintah yang mengumpulkan pajak tersebut. Selain itu, masyarakat cenderung memilih untuk membayar zakat saja dan malas untuk membayar pajak. Namun, di sisi lain, ada pula sebagian dari masyarakat yang justru enggan membayar zakat namun membayar pajak, bahkan tidak membayar keduanya sama sekali. Lalu, manakah yang benar?

 

Zakat dan pajak memiliki kesamaan, yaitu merupakan kewajiban bagi mereka yang dikenai kewajiban tersebut. Zakat bagi umat muslim, pajak bagi wajib pajak. Karena kedua instrumen ini wajib, maka keduanya harus dibayarkan. Mau bagaimanapun juga, zakat termasuk kepada rukun islam, dan pajak adalah salah satu wujud menaati peraturan negara, sesuai dengan perintah Al Quran (An Nisa:59) untuk menghormati ulil amri (pemimpin negara).

Seharusnya zakat dan pajak disejajarkan karena zakat dan pajak ada untuk saling melengkapi, zakat diperuntukkan kepada masyarakat yang membutuhkan (mustahiq), sedangkan pajak untuk membangun negara. Jadi, bayarlah zakat dan pajak karena orang bijak bayar pajak, dan orang taat bayar zakat. Jika salah satunya tidak ada maka dari manakah kontribusi untuk kesejahteraan dan pembangunan negara ini?