Sebelum sejauh matahari, kita pernah sedekat nadi.

Dia, yang biasanya selalu didekat kita, bagaikan nadi, tiba tiba menjauh bagai matahari.

Dia yang telanjur bikin lo nyaman, tiba tiba ninggalin lo, tanpa permisi pula. Tanpa sepatah kata. Tapi nyata, dia telah pergi. Meninggalkan kenangan, dan perasaan.

Terpikir buat hubungi lagi, tapi aku tersadar, siapalah aku ini?
Mungkin aku hanya seorang, yang hatinya pernah disinggahi, lalu ditinggal pergi, tanpa permisi.

Muncul segudang pertanyaan, “Siapa aku sebenarnya?” “Siapa kamu sebenarnya?” “Mengapa kita dipertemukan?” “Mengapa kita dipisahkan?” “Mengapa kau pergi begitu saja?”

Yang lebih pahit lagi, kau pergi, sebelum ku sempat memilikimu. Sebelum kutahu perasaanmu sesungguhnya. Setelah semua hal indah yang kau lakukan padaku, kau pergi. Seolah tak ada apa apa diantara kita.

Terima kasih. Terima kasih pernah datang, lalu menghilang. Terima kasih pernah peduli, lalu pergi. Terima kasih pernah menjadikanku “salah satunya”, disaat aku memilihmu sebagai “satu satunya”. Terima kasih atas kata kata indahmu, walau semua palsu. Terima kasih pernah menerbangkan, walau akhirnya menjatuhkan. Terima kasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s