Kopdar: Biggest Fear

Hidup dalam tatanan sosial yang amat banyak dipengaruhi sama internet sedikit banyak mempengaruhi kehidupan gue dan hubungan dengan masyarakat juga. Kini gue bisa kenal orang-orang jauh/dekat cuma lewat sosmed. Semudah itu nambah temen, bangun relasi hanya dengan ketukan jari. Bahkan mantan gue yang terakhir kemaren itu awalnya kenal gue dari sosmed, berawal dari message instagram. Setelah ditelisik, ternyata kami sekampus, seangkatan, sesuku dan sekampunghalaman pula. Malah beberapa dari keluarga gue kenal sama keluarga dia. Too bad we broke up lol. Sebenarnya sih banyak juga contoh orang-orang yang gue kenal dari sosmed gitu, tapi emang si mantan termasuk yang berkesan juga… *halah*
Ini juga bukti, betapa sosmed bener-bener mempengaruhi kita dalam bermasyarakat, yah contoh kecilnya itu tadi, mantan gue. Jaman nin sama opa gue dulu, mereka ketemu di lantai dansa (yea, 60s was such a sweet year back then). Life’s easier by now, sekarang mah kenalan tinggal klik follow terus kirim message.
Tapi yah, naluri manusia ya, sekedar chat gak cukup. Kalo cocok dan kebetulan sekota/deket apalagi satu lingkungan, tibalah tahap berikutnya, kopdar atau yang biasa anak kekinian sebut meet up. Contohnya yah sama si mantan itu. Kebetulan saat itu dia lagi ke kota gue. Kita ketemuan di stasiun. Terus lanjut deh ke tempat tujuan. We chit-chatted a lot back then lol. Sigh, people change, I know.
Sebenernya sih bukan dia aja. Sebelumnya juga gue udah sering kok kopdar/meet up, entah sama yang dulu deket sama gue, atau sama “internet bestfriend” gue yang jadi “real life bestfriend”. Malah belum lama ini gue ketemuan sama yang sebelumnya udah friend di fb sama gue selama 2 tahun. Setelah berkali-kali rencanain & gagal (halah, bilang aja wacana!) akhirnya kami ketemu. Yah untungnya kota asal gue sama sm dia jadi gue bisa ketemuan kalo liburan kayak sekarang.
Iya, “jam terbang” gue di bidang kopdar/meet up emang udah lumayan, dan Alhamdulillah kebanyakan berakhir dengan baik, jadi makin deket/bahkan sampe jadian. Mungkin karena posisi gue di organisasi sebagai staf humas jadinya gue mulai belajar branding dan membangun first impression yang baik di mata orang lain (walaupun in fact, ini SUSAH BANGET). Tapi jujur, biggest fear gue masih muncul: Insecurity. Mungkin orang-orang liat gue sebagai sosok orang yang PeDe atau malah kepedean. Yah aslinya mah gue ada sisi insecure juga, tapi gue berusaha sembunyiin.
Jujur aja, waktu gue ketemuan sama si mantan pertama kali, gue lupa gue menghabiskan waktu berapa lama demi membentuk alis yang sempurna dan milih warna lipstick yang sesuai mood dan penampilan keseluruhan saat itu. Pas gue akhirnya ketemu dia dan ngobrol, otak gue terus-terusan muter, mungkin kalo divisualisasikan kayak Spongebob yang isi otaknya miniatur-miniatur dia lagi ngebongkar berkas haha. Setelah dia pulang pun gue terus-terusan overthinking, “gue tadi salah ngomong gak ya?” “dia nyambung gak ya sama gue?” “Gue hari ini ga bikin fashion disaster kan ya depan dia?” Tapi yah, Alhamdulillah kita masih nyambung-nyambung aja sih…..saat itu.
Gak cuma sama si mantan sih, sama yang kemarin pun. To be very honest, sebelum gue ketemu dia, gue cari toilet terdekat dulu. Touch up!! Bedak? Check, alis? Check, lipstik? blush? Check, parfum? Check, dan ga lupa ngerapihin kerudung. Setelah semua in control, barulah gue memberanikan diri ketemu dia, dengan segala perasaan dagdigdugser yang ada. Untungnya gue nyambung sama dia, pertanyaan-pertanyaan overthinking yang biasanya muncul di otak pun tumben ga muncul. Gue sampe lupa waktu karena keasikan ngobrol. Walaupun setelah pulang, baru deh… BOOM, semua pertanyaan itu muncul. “dia ilfeel gak ya sama gue?” “gue fashion disaster gak ya tadi” “Parfum gue kurang gak ya?” “Suara gue tadi pas ngomong pas gak ya?” tapi yah Alhamdulillah, setelah ketemuan yah kami makin deket. Frekuensi chat meningkat. Yeay!
Yah, tapi being a little insecure juga sebenernya ada untungnya sih. Gue jadi lebih merhatiin diri sendiri, whiches good. At least I tried to, gitu. Kalo gue gak insecure dan cuek bebek terus dia malah males gimana?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s