[Keempat Hal yang Perlu Kamu Ketahui untuk Menjadi Pemimpin yang Baik (Ketua Komite). Nomor 1-4 Membuat Anda Tercengang!!!]

Menjadi pemimpin, khususnya Ketua Komite adalah sebuah tugas yang harus dilaksanakan dengan baik. Seorang pemimpin harus dapat mencari kawan, memengaruhi orang lain, membina rapat dengan baik, dan membentuk tim yang efektif. Point-point tersebut akan dijabarkan di bawah:

1. Cari Kawan
Eits, tunggu dulu.. Sebelum kamu menemukan kawan yang sesuai denganmu, jauh lebih baik jika kamu men”setting” diri sendiri lebih dahulu, agar kita berperilaku baik. Mengapa? Karena pemimpin yang baik akan mendahulukan kewajibannya daripada haknya. Sebelum ia mendapat hak berupa kawan yang baik, ia wajib menjadi pribadi yang baik lebih dahulu.

2. Pengaruhi Orang Lain
Untuk menjadi pemimpin yang baik, kamu harus dapat mempengaruhi orang lain, terutama pasukan yang kamu bawahi. Prinsipnya?
•Jangan mengkritik. Setidaknya kurangi. Hindari mencerca dan mengeluh. Solusinya:
•Perbanyak apresiasi. Berikan penghargaan yang tulus dan jujur pada mereka atas apa yang telah mereka lakukan.
•Ketahui minat orang lain. Pelajari apa hal yang mereka (pasukan) sukai. Pelajari pula tipe kepribadian mereka agar kamu dapat menghadapi mereka dengan lebih baik.
Selain itu, penuhi pula kebutuhan mereka. Menurut Teori Maslow, ada 4 kebutuhan manusia, yaitu pangan dan sandang, keamanan, dicintai dan dipercaya, dan percaya diri. Penuhilah rasa dicintai dan dipercaya dari kawan-kawan pasukan agar mereka dapat percaya diri dalam menjalani tugas-tugas mereka.

3. Manajemen Rapat yang Baik
Mengapa rapat penting?
Rapat bertujuan untuk mengecek progres dari tim, memotivasi, dan untuk mengambil keputusan-keputusan dari organisasi.
Sayangnya, seringkali rapat yang dijalankan tidak terlaksana dengan baik karena ada peserta yang ngaret/terlambat, tujuan tidak jelas, dan lain-lain.
Agar rapat terlaksana dengan baik, maka tujuan harus dijabarkan di awal, peserta rapat harus hadir tepat waktu, tambahkan basa-basi untuk mencairkan suasana (menanyakan kabar, dll.), fokus pada agenda, selesaikan dengan segera, dan simpulkan hasil rapat di akhir.

4. Bentuk Tim Efektif
Agar menjadi tim yang efektif, kamu sebagai seorang pemimpin harus mengetahui terlebih dahulu apa tipe kepemimpinan kamu: People Oriented (mengutamakan internalisasi, hubungan antar staff) atau Task Oriented (mengutamakan job description).
Selain itu, kamu harus mengetahui tim kamu. Ketahui orang-orang di dalamnya. Seperti point no. 2, pelajari kepribadiannya.
Terakhir dan tak kalah penting, tetapkan ekspektasi untuk tim ke depannya. Bagi peran, tetapkan tujuan, beri & terima feedback, dan di akhir, lakukan review atas ekspektasi yang sudah ditetapkan di awal.

Terakhir, untuk menjadi pemimpin yang baik, maka lakukanlah yang terbaik.
since “Greatness isn’t about being your best, but doing your best”.

Jadi, sudah siapkah kamu menjadi pemimpin yang baik?

(Materi oleh Kang M. Zul Karomi & Kang M. Rifqi Arviansyah)
LKK 2 (Latihan Kepemimpinan & Keprajuritan)
Dipati Ukur, 24 Maret 2018
Safira Aryantiputri (Kajian Akademik)
ISEG 2018
#ISEG #isegfornowandforever #ForNowandForever #CandraDimukaParaJuara

Advertisements

My Loneliness is…

Akhir-akhir ini aku banyak mendapat cerita dari teman-temanku. Kebanyakan isinya keluhan mereka tentang teman-teman mereka. Kehilangan teman yang biasanya selalu bareng, dan sekarang mulai menjauh karena kesibukan masing-masing, entah kuliah, kerja, bertemu teman baru, atau pacar baru *eh*.

Ah, sesuatu yang biasa buatku.

Sebagai orang yang terbiasa dengan kehilangan, aku menanggapi fenomena ini dengan pemikiran simpel. “People come and go”.

That’s life. C’est la vie. Begitulah hidup. Kitu we hirup teh.

Menghadapi banyak kehilangan dalam hidupku, kehilangan orang tua, kehilangan teman, kehilangan pacar (yang sekarang jadi mantan), aku mulai bisa menerima kalau orang-orang di sekitarku, tak terkecuali mereka yang spesial, hanya singgah dalam sekian waktu, lalu pada akhirnya akan pergi lagi.

Pada akhirnya hidup hanyalah seleksi alam tentang siapa yang bertahan dan siapa yang tak tahan.

Walau pada ujungnya artinya kita berakhir hidup sendiri.

Hidup menjadi anak rantau yang harus berjuang sendiri di kosan, aku mulai bersahabat dengan kesendirian. Mungkin awalnya sepi, tapi begitulah hidup. Hidup adalah tentang berjuang sendiri.

Untuk yang masih memilih untuk menemani, terima kasih.

Hidup sendiri membuatku sadar betapa berharganya hari-hari ketika ada yang menemani.

Ketika teman, pacar, siapapun itu menyempatkan hadir, walau sekedar lewat media sosial karena mereka saat ini jauh (I’m currently having Long Distance Relationship with my boyfie and Long Distance Friendship with my bestfriends), apalagi ketika tiba waktunya untuk bertemu. Momen-momen sederhana itulah yang membuatku bertahan sampai saat ini, dan membuatku terus menanti hari-hari seperti ini.

Pada akhirnya, sendiri dan berpengalaman ditinggal membuatku sadar, orang-orang datang dan pergi, dan pilihan akhirnya adalah bertahan atau tak tahan. Begitulah hidup yang kita jalankan.

Pertahankan selama mereka bertahan.

My Loneliness is…

Akhir-akhir ini aku banyak mendapat cerita dari teman-temanku. Kebanyakan isinya keluhan mereka tentang teman-teman mereka. Kehilangan teman yang biasanya selalu bareng, dan sekarang mulai menjauh karena kesibukan masing-masing, entah kuliah, kerja, bertemu teman baru, atau pacar baru *eh*.

Ah, sesuatu yang biasa buatku.

Sebagai orang yang terbiasa dengan kehilangan, aku menanggapi fenomena ini dengan pemikiran simpel. “People come and go”.

That’s life. C’est la vie. Begitulah hidup. Kitu we hirup teh.

Menghadapi banyak kehilangan dalam hidupku, kehilangan orang tua, kehilangan teman, kehilangan pacar (yang sekarang jadi mantan), aku mulai bisa menerima kalau orang-orang di sekitarku, tak terkecuali mereka yang spesial, hanya singgah dalam sekian waktu, lalu pada akhirnya akan pergi lagi.

Pada akhirnya hidup hanyalah seleksi alam tentang siapa yang bertahan dan siapa yang tak tahan.

Walau pada ujungnya artinya kita berakhir hidup sendiri.

Hidup menjadi anak rantau yang harus berjuang sendiri di kosan, aku mulai bersahabat dengan kesendirian. Mungkin awalnya sepi, tapi begitulah hidup. Hidup adalah tentang berjuang sendiri.

Untuk yang masih memilih untuk menemani, terima kasih.

Hidup sendiri membuatku sadar betapa berharganya hari-hari ketika ada yang menemani.

Ketika teman, pacar, siapapun itu menyempatkan hadir, walau sekedar lewat media sosial karena mereka saat ini jauh (I’m currently having Long Distance Relationship with my boyfie and Long Distance Friendship with my bestfriends), apalagi ketika tiba waktunya untuk bertemu. Momen-momen sederhana itulah yang membuatku bertahan sampai saat ini, dan membuatku terus menanti hari-hari seperti ini.

Pada akhirnya, sendiri dan berpengalaman ditinggal membuatku sadar, orang-orang datang dan pergi, dan pilihan akhirnya adalah bertahan atau tak tahan. Begitulah hidup yang kita jalankan.

Pertahankan selama mereka bertahan.

My Loneliness is…

Akhir-akhir ini aku banyak mendapat cerita dari teman-temanku. Kebanyakan isinya keluhan mereka tentang teman-teman mereka. Kehilangan teman yang biasanya selalu bareng, dan sekarang mulai menjauh karena kesibukan masing-masing, entah kuliah, kerja, bertemu teman baru, atau pacar baru *eh*.

Ah, sesuatu yang biasa buatku.

Sebagai orang yang terbiasa dengan kehilangan, aku menanggapi fenomena ini dengan pemikiran simpel. “People come and go”.

That’s life. C’est la vie. Begitulah hidup. Kitu we hirup teh.

Menghadapi banyak kehilangan dalam hidupku, kehilangan orang tua, kehilangan teman, kehilangan pacar (yang sekarang jadi mantan), aku mulai bisa menerima kalau orang-orang di sekitarku, tak terkecuali mereka yang spesial, hanya singgah dalam sekian waktu, lalu pada akhirnya akan pergi lagi.

Pada akhirnya hidup hanyalah seleksi alam tentang siapa yang bertahan dan siapa yang tak tahan.

Walau pada ujungnya artinya kita berakhir hidup sendiri.

Hidup menjadi anak rantau yang harus berjuang sendiri di kosan, aku mulai bersahabat dengan kesendirian. Mungkin awalnya sepi, tapi begitulah hidup. Hidup adalah tentang berjuang sendiri.

Untuk yang masih memilih untuk menemani, terima kasih.

Hidup sendiri membuatku sadar betapa berharganya hari-hari ketika ada yang menemani.

Ketika teman, pacar, siapapun itu menyempatkan hadir, walau sekedar lewat media sosial karena mereka saat ini jauh (I’m currently having Long Distance Relationship with my boyfie and Long Distance Friendship with my bestfriends), apalagi ketika tiba waktunya untuk bertemu. Momen-momen sederhana itulah yang membuatku bertahan sampai saat ini, dan membuatku terus menanti hari-hari seperti ini.

Pada akhirnya, sendiri dan berpengalaman ditinggal membuatku sadar, orang-orang datang dan pergi, dan pilihan akhirnya adalah bertahan atau tak tahan. Begitulah hidup yang kita jalankan.

Pertahankan selama mereka bertahan.

Pulang

“Saatnya pulang..” desisku melihat notif masuk barusan.

“Untuk menyelesaikan urusan tersebut, kami meminta Anda untuk hadir pada 18 Januari 2018” begitu sekilas pesan yang kubaca. Seperti biasa, urusan mendadak.

Aku bukan orang yang tak terbiasa dengan urusan mendadak. Hal itu sudah lumrah bagiku, dengan segala kepadatan hari-hariku yang penuh kegiatan dan kadang harus dadakan. Satu hal yang kubenci, aku harus pulang.

Aku benci pulang.

Bukan karena aku tak mau menemui orang tua dan keluargaku, aku merindukan mereka

Bukan karena aku ingin lari dari tanggung jawab. Aku sudah terlalu dianggap dewasa untuk melakukan itu.

Aku benci jauh darimu.

Hari-hari kita bersama membuatku terus merasa lupa waktu

Melupakan segala drama dan kesedihan yang telah membelenggu hidupku

Aku benci menerima kenyataan kalau hari-hari indah itu harus berlalu

Sayang, saatnya kembali ke realita

Dimana jarak membentang melebihi hasta

Dimana aku dan kamu tak berada di tempat yang sama

Namun setidaknya, langit kita sama.

Sayang, tunggulah aku kembali

Saat waktu terasa melamban lagi

Karena ada kamu di sisi

Tunggulah, nanti aku kembali ke sini

Pulang

“Saatnya pulang..” desisku melihat notif masuk barusan.

“Untuk menyelesaikan urusan tersebut, kami meminta Anda untuk hadir pada 18 Januari 2018” begitu sekilas pesan yang kubaca. Seperti biasa, urusan mendadak.

Aku bukan orang yang tak terbiasa dengan urusan mendadak. Hal itu sudah lumrah bagiku, dengan segala kepadatan hari-hariku yang penuh kegiatan dan kadang harus dadakan. Satu hal yang kubenci, aku harus pulang.

Aku benci pulang.

Bukan karena aku tak mau menemui orang tua dan keluargaku, aku merindukan mereka

Bukan karena aku ingin lari dari tanggung jawab. Aku sudah terlalu dianggap dewasa untuk melakukan itu.

Aku benci jauh darimu.

Hari-hari kita bersama membuatku terus merasa lupa waktu

Melupakan segala drama dan kesedihan yang telah membelenggu hidupku

Aku benci menerima kenyataan kalau hari-hari indah itu harus berlalu

Sayang, saatnya kembali ke realita

Dimana jarak membentang melebihi hasta

Dimana aku dan kamu tak berada di tempat yang sama

Namun setidaknya, langit kita sama.

Sayang, tunggulah aku kembali

Saat waktu terasa melamban lagi

Karena ada kamu di sisi

Tunggulah, nanti aku kembali ke sini

Sayonara 2017, Ahlan 2018!

Akhirnya, tahun 2017 yang penuh drama berakhir sempurna, dan 2018 dimulai dengan bahagia.

Yeah, 2017 was an extreme bomb.

Tahun dengan berbagai lika-liku, drama.

I can say that 2017 was like an extreme roller coaster, with the very nice landing position.

Di tahun yang gila ini, aku kehilangan orang-orang yang biasanya selalu ada, harus melewati banyak drama, menghadapinya satu per satu.

Tapi di 2017 yang luar biasa ini, aku pun menemukan orang-orang baru.

Orang-orang tak terduga yang akhirnya menjadi teman, bahkan teman hidup.

Lika liku pertemanan dan percintaan terasa lebih bergejolak di tahun 2017 ini. Dari punya sahabat, lalu ditinggal. Pernah sayang, lalu ditinggal pula. Everyone will go away when it’s time, I know.

Tahun di mana pada akhirnya aku pernah menyimpulkan, “In the end, all you can depend is yourself”. Memutuskan buat menyendiri dan merenung. Memang sulit di awal, tapi akhirnya terbiasa………

Sampai akhirnya menemukan akhir yang bahagia di balik drama 2017 ini. Menemukan orang yang akhirnya menyadarkan, “No, you can’t face everything alone”. He’s like, the best thing I never knew I needed.

Dan seperti itulah, drama berjudul “2017” ini diakhiri dengan happy ending yang sukses.

Terima kasih untuk semua yang pernah mewarnai 2017ku ini. Yang pernah datang lalu pergi, yang memilih bertahan, yang akhirnya datang dengan bahagia yang sudah lama tak kurasakan.

2018, please be a much better year.