Review: Bedak Dingin Saripohatji

Selamat weekend teman-teman! Ke mana aja akhir pekan ini? Kalo nggak ke mana-mana, pas banget nih, waktunya merawat diri! Setelah terus-terusan terpapar polusi, stres, dll., nggak ada salahnya dong merawat kulit supaya tetep oke, yuk jaga kulit agar lebih sehat.
Mungkin kalian bertanya-tanya, “duh, enaknya perawatan wajah pake apa ya? Gak usah mahal-mahal yang penting cocok deh. Produk jaman sekarang banyakan mahal sih.” iya, semakin ke sini, biaya perawatan semakin mahal. Banyaknya produk perawatan wajah yang semakin beragam pun semakin bervariasi harganya.
Di antara banyaknya produk perawatan wajah kekinian, aku masih lebih memilih produk lokal tradisional, bedak dingin. Jadul dikit gapapa kan ya. Haha.
Jujur, aku pernah mencoba produk-produk seperti black mask, masker spirulina, dll. Hasilnya? Wah, ternyata kulitku sensitif dan menimbulkan reaksi kurang baik. Bahkan di leherku muncul ruam karena tidak cocok pakai masker spirulina. Nggak enak banget deh.
Sampai suatu hari aku pergi ke Dayti, Jalan Sayang/Kolonel Ahmad Syam, Jatinangor. Di sinilah aku bertemu jodohku (halah, lebay!!), bedak dingin! Di antara banyak merk, aku memilih Bedak Dingin Saripohatji. Biasa, faktor harga, maklumlah kaum kosan proletar haha. Rp 3000 saja loh untuk 1 bungkus berisi 25 tablet. Konon, bedak dingin ini sudah ada sejak sekian tahun yang lalu.

sederhana banget kan bungkusnya?

Nah, inilah tablet-tabletnya. Ternyata isi 25 butir. Tablet bedak dingin ini terbuat dari bahan-bahan alami loh. Aman pastinya.

Cara penggunaannya: bisa dijadikan masker, bisa juga buat campuran di bedak tabur.

Buat masker, campurkan 3 butir tablet dengan sedikit air sampai menjadi adonan yang kental, lalu, oleskan ke wajah dengan kuas masker.

Karena masker ini terbuat dari bahan alami, aman jika dibiarkan semalaman. Aku biasanya menggunakan masker ini di malam hari lalu kubilas saat bangun tidur. Saat bangun tidur, muncul efek putih seperti kotoran di dekat mata. Bersihkan saja, ini merupakan bukti bahan-bahan di masker bekerja.
Setelah penggunaan rutin, kulitku terasa lebih halus dan jerawat jauh berkurang. Ditambah, tak ada efek samping seperti ruam sehingga aman untuk yang berkulit sensitif. Terbukti kan, cantik nggak harus mahal 😀

Advertisements

[Resep Mamah] Sop Gurame

Pada bingung mau makan apa siang ini? Makan ikan yuuk! Biar ga ditenggelamkan Bu Susi *loh* wkwkwk.

Kali ini aku bakal share salah satu resep mamah, sop gurame. Dulu kami sering masak ini di rumah. Lumayan simpel loh..
Bahan:

Ditumis:

  • Bawang merah 6 siung
  • Bawang putih 5 siung
  • Cabai keriting 2 buah

Direbus:

  • Jahe sebesar jempol, digeprek
  • Lengkoas sebesar jempol, digeprek
  • Sereh 1 batang, digeprek
  • Daun jeruk 3 lembar
  • Ikan gurame 1 ekor
  • Daun kemangi
  • Cabai rawit
  • Tomat 1/2 buah
  • Jeruk nipis

Cara membuat:

  1. Pertama, lumuri ikan yang sudah dipotong-potong dengan jeruk nipis. 
  2. Siapkan bawang merah, bawang putih, cabai. Iris halus. 
  3. Tumis bawang merah, bawang putih, dan cabai. 
  4. Masukkan bumbu yang sudah ditumis ke air yang sudah direbus dengan jahe, sereh, dan lengkoas. 
  5.  Masukkan gurame yang sudah dilumuri air jeruk nipis. 
  6. Tambahkan tomat yang sudah dipotong-potong, cabai rawit, daun jeruk yang sudah dirobek, dan daun kemangi. Sop gurame siap disajikan! 

[Resep Mamah]

Hai, selamat Idul Fitri yah semua. Maafkan kalo aku mungkin banyak salah.
Masih suasana lebaran nih, aku sekarang nginep di rumah eyang, yah, rumah masa kecilku-masa abege sebelum akhirnya pindah ke Bandung.
Waktu lagi beberes rumah, aku nemu beberapa resep makanan yang ditulis almh. Mamah. Beliau emang sering masak waktu beliau masih sehat dulu. Supaya beliau ga lupa, beliau catet semua bahan & cara buatnya. Biar takarannya pas, gitu.
Ternyata, catetan-catetan beliau masih ada.

Rapih ya tulisan mamah? Ga kayak tulisan anaknya.. WKWKWK


Nah, buat mengenang & supaya kalian juga bisa coba, aku bakal buat category baru, ResepMamah.


Stay tune ya! ❤

Kopdar: Biggest Fear

Hidup dalam tatanan sosial yang amat banyak dipengaruhi sama internet sedikit banyak mempengaruhi kehidupan gue dan hubungan dengan masyarakat juga. Kini gue bisa kenal orang-orang jauh/dekat cuma lewat sosmed. Semudah itu nambah temen, bangun relasi hanya dengan ketukan jari. Bahkan mantan gue yang terakhir kemaren itu awalnya kenal gue dari sosmed, berawal dari message instagram. Setelah ditelisik, ternyata kami sekampus, seangkatan, sesuku dan sekampunghalaman pula. Malah beberapa dari keluarga gue kenal sama keluarga dia. Too bad we broke up lol. Sebenarnya sih banyak juga contoh orang-orang yang gue kenal dari sosmed gitu, tapi emang si mantan termasuk yang berkesan juga… *halah*
Ini juga bukti, betapa sosmed bener-bener mempengaruhi kita dalam bermasyarakat, yah contoh kecilnya itu tadi, mantan gue. Jaman nin sama opa gue dulu, mereka ketemu di lantai dansa (yea, 60s was such a sweet year back then). Life’s easier by now, sekarang mah kenalan tinggal klik follow terus kirim message.
Tapi yah, naluri manusia ya, sekedar chat gak cukup. Kalo cocok dan kebetulan sekota/deket apalagi satu lingkungan, tibalah tahap berikutnya, kopdar atau yang biasa anak kekinian sebut meet up. Contohnya yah sama si mantan itu. Kebetulan saat itu dia lagi ke kota gue. Kita ketemuan di stasiun. Terus lanjut deh ke tempat tujuan. We chit-chatted a lot back then lol. Sigh, people change, I know.
Sebenernya sih bukan dia aja. Sebelumnya juga gue udah sering kok kopdar/meet up, entah sama yang dulu deket sama gue, atau sama “internet bestfriend” gue yang jadi “real life bestfriend”. Malah belum lama ini gue ketemuan sama yang sebelumnya udah friend di fb sama gue selama 2 tahun. Setelah berkali-kali rencanain & gagal (halah, bilang aja wacana!) akhirnya kami ketemu. Yah untungnya kota asal gue sama sm dia jadi gue bisa ketemuan kalo liburan kayak sekarang.
Iya, “jam terbang” gue di bidang kopdar/meet up emang udah lumayan, dan Alhamdulillah kebanyakan berakhir dengan baik, jadi makin deket/bahkan sampe jadian. Mungkin karena posisi gue di organisasi sebagai staf humas jadinya gue mulai belajar branding dan membangun first impression yang baik di mata orang lain (walaupun in fact, ini SUSAH BANGET). Tapi jujur, biggest fear gue masih muncul: Insecurity. Mungkin orang-orang liat gue sebagai sosok orang yang PeDe atau malah kepedean. Yah aslinya mah gue ada sisi insecure juga, tapi gue berusaha sembunyiin.
Jujur aja, waktu gue ketemuan sama si mantan pertama kali, gue lupa gue menghabiskan waktu berapa lama demi membentuk alis yang sempurna dan milih warna lipstick yang sesuai mood dan penampilan keseluruhan saat itu. Pas gue akhirnya ketemu dia dan ngobrol, otak gue terus-terusan muter, mungkin kalo divisualisasikan kayak Spongebob yang isi otaknya miniatur-miniatur dia lagi ngebongkar berkas haha. Setelah dia pulang pun gue terus-terusan overthinking, “gue tadi salah ngomong gak ya?” “dia nyambung gak ya sama gue?” “Gue hari ini ga bikin fashion disaster kan ya depan dia?” Tapi yah, Alhamdulillah kita masih nyambung-nyambung aja sih…..saat itu.
Gak cuma sama si mantan sih, sama yang kemarin pun. To be very honest, sebelum gue ketemu dia, gue cari toilet terdekat dulu. Touch up!! Bedak? Check, alis? Check, lipstik? blush? Check, parfum? Check, dan ga lupa ngerapihin kerudung. Setelah semua in control, barulah gue memberanikan diri ketemu dia, dengan segala perasaan dagdigdugser yang ada. Untungnya gue nyambung sama dia, pertanyaan-pertanyaan overthinking yang biasanya muncul di otak pun tumben ga muncul. Gue sampe lupa waktu karena keasikan ngobrol. Walaupun setelah pulang, baru deh… BOOM, semua pertanyaan itu muncul. “dia ilfeel gak ya sama gue?” “gue fashion disaster gak ya tadi” “Parfum gue kurang gak ya?” “Suara gue tadi pas ngomong pas gak ya?” tapi yah Alhamdulillah, setelah ketemuan yah kami makin deket. Frekuensi chat meningkat. Yeay!
Yah, tapi being a little insecure juga sebenernya ada untungnya sih. Gue jadi lebih merhatiin diri sendiri, whiches good. At least I tried to, gitu. Kalo gue gak insecure dan cuek bebek terus dia malah males gimana?

Buat Pisang Aroma Sendiri di Rumah, Yuk!

Memasuki jam-jam galau…

Eh, galau kenapa tuh?

Galau… buka puasa pake apa ya? Hehe bener gak?
Mau makan ini, makan itu, jajan ini, jajan itu.. jam-jam mulai laper mata deeh! Ya kaan? Hihihi…
Naahh buat kamu-kamu yang mau masak sendiri tapi bingung mau buka puasa pake apa, hari ini aku masak pisang aroma! Itu loh, pisang goreng.. *tapi bukan goreng pisang yang super itu ya* digulung dalam kulit lumpia, dengan aroma yang… oke jangan godin guys. 

Pasti sering liat dong yaa di kafe/di jalan.

Nah sekali-kali coba yuk buat sendiri di rumah! Lebih sehat & lebih higienis pastinya 😉

Bahan:

  • Kulit lumpia
  • Pisang (kalo bisa pisang raja ya. Ini kebetulan aja aku buatnya pake pisang ambon hehe)
  • Palmsuikker/gula palem/gula semut

Cara:

  1. Taruh pisang di atas kulit lumpia
  2. Tambahkan palmsuikker kurang lebih 3 sendok teh
  3. Bungkus dan lipat kulit lumpia
  4. Goreng dalam minyak panas
  5. Balik agar matang merata
  6. Setelah matang merata (berwarna kecoklatan), angkat dan tiriskan
  7. Ta-da!

Gimana gimana? Mantap kaan buat buka puasa hari ini..

Semoga bermanfaat yaa

Selamat mencoba :mrgreen:

Di malam yang dingin itu, dalam kondisi setengah lapar, aku pergi ke kafe itu, sendiri.

Ah, kafe sejuta kenangan, pikirku.
Aku duduk sendiri di salah satu sudut, memerhatikan sekitar dengan nanar

Mendengar musik, melihat susunan kursi, memerhatikan orang lalu-lalang.
Aku memesan secangkir cappuchino hangat. Itu favoritmu, kan? Ah sudahlah, kunikmati saja secangkir ini sendiri. Seperti aku yang berusaha menikmati kesendirianku tanpamu.
Sambil menyeduh kopi, telingaku tiba-tiba menyadari sesuatu.

Ah, lagu ini, sebuah lagu kenangan yang selalu membuatku ingat padamu.

“…ku kan slalu ada tuk dirimu slamanya…”

Haha, selamanya, katamu? Kau di mana sekarang? Bahkan sekarang ini aku duduk di sudut kafe ini sendiri. Bagian mana yang kau bilang “selamanya”?
Aku pun menatap kursi-kursi di kafe ini. Ada yang kosong, ada yang tidak. Sepasang bangku kosong merusak fokusku.

Ah, itu, kursi tempat kita biasa duduk bersama. Menikmati kopi sambil bercengkrama, begitu bahagia. Di mana bahagiaku kini, bahagia kita?
Orang-orang yang lalu lalang pun sempat kupandangi. Entah, salah satu sisi di hatiku berharap masih dapat melihatmu. Walau otakku terus mencari cara untuk menghindarimu. Ah, mungkin kau mau berbelok ke kafe ini dan menemuiku?

Aku tahu, pikiran itu hanyalah sebuah pemikiran utopis yang bahkan sepertinya tak punya probabilita. Walaupun sudah kuanalisa dengan binomial, poisson, dan distribusi normal sekalipun, probabilita untukmu menemuiku lagi? 0%.

“​Seharusnya”
Ah, hanya keadaan normatif yang tak mungkin terjadi

Tak peduli berapa asumsi yang berputar di kepalaku

Tak peduli berapa opportunity cost yang terpaksa ku abaikan untukmu

Tak peduli berapa sunk cost untukmu yang seperti kamu, tak mungkin kembali untukku